Jumat, 28 Agustus 2015

Percakapan Senja


Duduklah... Mari kita bercakap tentang senja...
Sudah kusiapkan segelas kopi panas untukmu. Dan untukku, cukup secangkir teh tanpa gula.
Kau hanya tersenyum, tak pernah berkata ada apa. Kau tahu, aku selalu bahagia melihat senja.
Kau pernah berkata, saat seperti ini adalah momen "romantisme senja dan secangkir kopi panas"-ku. Hahaha, terserahmu sajalah...
Lalu kita mulai berbincang. Lebih tepatnya kau mendengarkan aku bercerita...
Hingga senja yang keemasan pun berakhir. Berganti langit yang memerah dan segera lenyap di kaki cakrawala...
"Kau tahu, akan selalu ada secangkir kopi panas yang merindukan senja"
Kau hanya tertawa. "kau tahu, di binar matamu, telah kutemukan senja. Sampai kapanpun, aku bahagia"


 Senja selalu apa adanya. 
 Saat mata senja berlinang jingga, engkau hanya terlalu bahagia, meski hanya mengenang luka.
 Tak ada yang lebih indah daripada kala senja di teras rumah kita, saat kau menatapku di satu sore yang sederhana.
 Satu persatu kenangan mulai kau ingat, dan tersenyum ketika giliranku lewat.
Kelak akan ada sore yang begitu sepi bagimu. 
Ketika senja mulai tenggelam, sepasang mata terpejam mengenang... 
Senja mencuri rindunya.
 Senja lebih bermuram durja. 
Semoga ia temukan kembali, satu bayangan senja di matanya.

 Senja sebentar lagi datang. 
Ia merindukan mata itu. 
Mata yang berbinar kala langit tak lagi biru.
Hatinya berbisik, "Kau yg selalu merindukan senja, apa kabar?" "Ingin sekali kulontarkan satu kata saja untukmu"
Ia rindu. Tanpanya, senja tak lagi sama. 
Yang tertinggal hanya kenangan akan sepasang ceruk mata indah tempat senja bersemayam.
Senja cemburu. 
Berharap mencuri rindunya, sebelum kegelapan menghanguskannya.
Rindu yang tak nyata. Rindu yang sia-sia.
Semoga kelak pada satu hari rindunya kembali menemukan rumahnya...