Senin, 07 Desember 2015

Apa Kabar?

Apa kabar waktu?
Masih setiakah membentangkan jarak?
Hingga satu hati perlahan menjauh... 

Apa kabar hati?
Masih tegarkah menyambut pagi?
Hingga satu rindu menyapa sepi...

Apa kabar rindu?
Masih tabahkah mengukur doa? 

Apa kabar kamu?
Masihkah engkau mengingatku...

Rabu, 11 November 2015

WAKTU

WAKTU... adalah ukuran KEABADIAN.
Tak ada yang lebih pendek, karena seĺalu kurang untuk melaksanakan rencana-rencana kita.
Tak ada yang lebih lambat, bagi mereka yang sedang menunggu.
Tak ada yg lebih cepat berlalu, untuk mereka yang sedang menikmati hidup.

WAKTU...
Membuat semua yang patut dikenang terlupakan.
Dan yang pantas diingat menjadi abadi.

Jumat, 28 Agustus 2015

Percakapan Senja


Duduklah... Mari kita bercakap tentang senja...
Sudah kusiapkan segelas kopi panas untukmu. Dan untukku, cukup secangkir teh tanpa gula.
Kau hanya tersenyum, tak pernah berkata ada apa. Kau tahu, aku selalu bahagia melihat senja.
Kau pernah berkata, saat seperti ini adalah momen "romantisme senja dan secangkir kopi panas"-ku. Hahaha, terserahmu sajalah...
Lalu kita mulai berbincang. Lebih tepatnya kau mendengarkan aku bercerita...
Hingga senja yang keemasan pun berakhir. Berganti langit yang memerah dan segera lenyap di kaki cakrawala...
"Kau tahu, akan selalu ada secangkir kopi panas yang merindukan senja"
Kau hanya tertawa. "kau tahu, di binar matamu, telah kutemukan senja. Sampai kapanpun, aku bahagia"


 Senja selalu apa adanya. 
 Saat mata senja berlinang jingga, engkau hanya terlalu bahagia, meski hanya mengenang luka.
 Tak ada yang lebih indah daripada kala senja di teras rumah kita, saat kau menatapku di satu sore yang sederhana.
 Satu persatu kenangan mulai kau ingat, dan tersenyum ketika giliranku lewat.
Kelak akan ada sore yang begitu sepi bagimu. 
Ketika senja mulai tenggelam, sepasang mata terpejam mengenang... 
Senja mencuri rindunya.
 Senja lebih bermuram durja. 
Semoga ia temukan kembali, satu bayangan senja di matanya.

 Senja sebentar lagi datang. 
Ia merindukan mata itu. 
Mata yang berbinar kala langit tak lagi biru.
Hatinya berbisik, "Kau yg selalu merindukan senja, apa kabar?" "Ingin sekali kulontarkan satu kata saja untukmu"
Ia rindu. Tanpanya, senja tak lagi sama. 
Yang tertinggal hanya kenangan akan sepasang ceruk mata indah tempat senja bersemayam.
Senja cemburu. 
Berharap mencuri rindunya, sebelum kegelapan menghanguskannya.
Rindu yang tak nyata. Rindu yang sia-sia.
Semoga kelak pada satu hari rindunya kembali menemukan rumahnya...



Kamis, 11 Juni 2015

unfinished business

Awalnya aku berpikir, semua pertanyaan hadir karena memang ditakdirkan untuk dijawab
Semua persoalan yang datang adalah tugas yang harus diselesaikan

Kini aku belajar,

Mereka bisa saja menggantung suka-suka.
Atau serupa gelembung sabun,
hanya mengudara lalu pecah begitu saja

Ada kalanya yang perlu dilakukan hanyalah mengambil napas panjang
dan mengijinkan segala prosesnya.
Apa adanya.

Whatever it comes, let it come.
Whatever it stays, let it stay.
Whatever it goes, let it go...






Minggu, 22 Maret 2015

Kisah Yang Tak Pernah Dimulai

Akan kutuliskan satu kisah yang tak pernah dimulai, namun harus diakhiri. Tentang dua pasang mata dan seulas senyuman yang hanya mampu menyapa dari kejauhan.

Akan kuceritakan satu kisah yang tak pernah dimulai, namun harus diingkari. Tentang satu rahasia yang tersimpan rapi, dan dua hati yang pernah saling terpaut dalam sepi.

Akan kusampaikan satu kisah yang tak pernah dimulai, namun harus dilupakan. Tentang dua anak manusia yang sejenak dipertemukan, namun takdir membuat mereka berlayar terpisah jalan.


"Tak ada janji yang harus ditepati, pun tak ada kisah selanjutnya yang harus dinanti."




 

Jumat, 06 Maret 2015

Kalau Saja



kalau saja melupakan masa lalu semudah menghapus ribuan SMS dalam sebuah telepon genggam… -sekali klik lenyaphilanglah semua


tetapi apakah rasa ‘nyeri’ dan bahagia yang pernah kita rasakan di masa lalu itu akan lenyaphilang juga?


ah, sepertinya tidak…

ia akan mengendap dalam diam jauh di dalam otak kecil


seringkali muncul hanya karena satu pemicu kecil, cukup satu saja

entah itu melalui aroma parfum, alun nada lagu, corak baju, simpang jalan, perayaan2, atau tanpa tanda sama sekali


silakan, pilih salah satu. tak perlu malu. siapapun pasti pernah mengalami bukan?


mensiuli rembulan yang bertanya tentang rindu, hingga embun pagi datang menyerukan bening pada tiap helai daun hati


ah, setidaknya kita tak perlu tua dalam tanda tanya...





Kamis, 05 Maret 2015

dan akhirnya...



dan akhirnya...
kehidupan melanjutkan ceritanya... lagi... dan terus... 
karena waktu tak pernah berhenti bergerak
tragedi diubahnya menjadi pelajaran 
dan keindahan diubahnya menjadi kenangan

tak perlu ada sesal
pun tangis...
semoga ini bagian dari rencana baikNya
dan bukan akibat dari kebebalan serta kebodohan kita sebagai manusia

Hujan Tak Pernah Kecewa



meski angin menghempaskannya
hujan tak pernah kecewa
takdir menghendakinya demikian


maka ia bergerak
menempuh perjalanan panjang…
membasahi bukit, pucuk pohon, dan padang ilalang
jatuh di atap rumah, bangku taman, dan trotoar

Gerimis



Meski telah berbilang bulan
Namun bukan tanpa rindu
Lama sudah tak bertutur tentang senja
Walau kujumpa di tiap waktu

Mungkin karena matahari bercahaya
Menembus ruang dalam kalbu
Aku tetap jingga
Meski diantara deras hujan nan syahdu

Bahagia ini tersimpan
Dalam kisah rintik gerimis, tanpa cemburu


Rabu, 04 Maret 2015

Secangkir Teh Hangat di Pagi yang Dingin


Apalagi yang lebih baik daripada secangkir teh hangat di pagi yang dingin?

Kopi mungkin? 

Ah ya benar. Tapi maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pencinta kopi, aku tak begitu suka kopi. Seperti kata Dee "Sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan." Filosofi Kopi.

Jadi, mungkin karena aku tak suka kepahitan, aku lebih memilih teh. Teh tidak pahit, hanya sepat. Sepat yang ringan.

Kita adalah Kenangan



mungkin bukan waktu yang menyenja ingatan kita, 

bukan pula kenangan yang telah menggunting setia.

namun luka yang menyeringai dengan cakar-cakarnya,

saat kita berusaha menyembuhkannya.

Akhir adalah Kembali ke Awal




Kita berjalan di jalur melingkar
Di mana di dalamnya kita menemukan sesuatu yang senantiasa ada di situ

Di Antara



Di antara benci dan cinta, ada kicau burung…
Dan ketika semua rasa menjejak
Kita bisa bercerita tentang perjalanan sekian tahun
Yang membawa kita ke batas hati yang tak bertepi