Selasa, 14 Maret 2017

Elegi Dua Hati



Dua pria itu duduk berhadapan di meja pantry sebuah kantor di bilangan SCBD. Dimas dengan sepiring nasi goreng, dan Rama dengan semangkuk indomie rebus lengkap dengan sawi dan telur setengah matangnya.
Pukul 9 malam. Hujan deras mengguyur sejak magrib tadi dan mereka terjebak lembur dengan desain sebuah taman kota yang harus selesai malam ini juga. Untunglah Agus si OB teladan mau menemani mereka dan menyiapkan makan malam.

Hanya terdengar denting sendok beradu dengan piring, hingga akhirnya Dimas mendadak bicara,
“Aku mulai ragu dengan konsep pernikahan, Ram.”
Rama membelalakkan matanya mendengar Dimas, rekan kerja terbaiknya yang akan menikah sebulan lagi, berkata seperti itu.
“Kalau saja kamu ngomong begini setahun kemarin, mungkin beda urusannya.” Rama bicara sambil mengunyah.
“Konsep menyatukan dua orang dalam ikatan yang bernama pernikahan itu sepertinya nggak masuk akal,”
“Kenapa kamu tiba-tiba bahas ini?”

Dimas terdiam, berhenti menyuap nasi gorengnya. Ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Pikirannya melayang ke percakapan singkatnya dengan seseorang via Whatsapp sore tadi. Seseorang yang pernah mengisi hatinya.
“Terusin. Aku nyimak.”
 Dimas menghembuskan asap rokoknya perlahan.
"Kamu pernah ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?
Rama mulai mengerti. Dimas membicarakan masa lalunya.

"Terus masalahnya apa, sampai sekarang kamu masih sayang sama dia?"
"Nggak tahu."
"Kamu yakin dia masih sayang kamu?"
"Nggak tahu juga."
“Kenapa kamu nggak tanya dia langsung?”
“Caranya?”
“Nggak tahu,” Rama menggeleng. Tertawa. “Kupikir kamu yang sudah siap menikah ini pasti paham.”
“Mungkin dulu aku nggak bisa memperlakukan dia dengan baik. Menurutmu bagaimana, Ram?”
“Atau bisa juga, sejak awal sebenarnya dia nggak pernah mencintai kamu.”
Kalimat Rama yang yang tanpa basa-basi langsung menonjok perasaan Dimas. Tapi Dimas maklum, memang begitulah adat mulut sahabatnya ini.  Dimas kemudian meneguk sisa teh tawar panasnya, lantas memberikan isyarat tangan agar mereka segera kembali bekerja

Dua jam kemudian pekerjaan mereka selesai.
“Kamu masih mau di sini?”
“Iya,” jawab Rama. “Sepertinya aku bisa satu jam-an lagi.”
“Ngga usah maksain terlalu perfect Ram, ini sudah bagus kok.”
“Oke.”
“Aku pulang duluan.” Ucap Dimas. “Sekar minta diantar ke bandara besok pagi.”
Rama mengangguk. Dimas berjalan ke pintu keluar.

Rama membuka handphonenya. Tidak ada kabar. "Dia pasti sudah tidur." Gumamnya dalam hati.
Dibukanya laci meja. Nampak sebuah kotak kecil berlapis beludru biru tua disana, dan sebuah cincin dengan berlian mungil teronggok manis di dalamnya.

"Dyah...", Rama mengusap kotak kecil itu dan tersenyum menggumamkan nama perempuan-nya. Perempuan yang telah menemani hari-harinya 3 bulan belakangan ini. Seorang gadis bermata sendu yang membuat hatinya teduh walau hanya dengan menatap senyumnya.

Besok ia akan melamarnya.

Senin, 13 Maret 2017

Pelajaran Terbang

Tidak ada yang ku sesali
Aku harap kamu juga demikian
Tidak ada cara yang mudah untuk mengatakan ini semua
Aku yakin kamu mengerti
Dan, tidak ada yang ku cintai dalam selain perasaan indah yang pernah kita miliki 
(dan, semoga masih terus kita miliki)
Tapi, aku bukan Putri yang kamu cari
   Di satu titik, perasaan indah itu telah mengkristal, dan aku akan menyimpanya
Selamanya
Kamu adalah yang teristimewa
Kamu telah memberiku kekuatan untuk mendobrak belenggu itu
Sekarang aku bebas
Tapi, tidak berarti kita jalan bersama
Izinkan aku kembali berjalan di setapak kecilku

~Dee
(Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh)



 

Senin, 16 Januari 2017

Ketika Hujan Turun



Percayalah. Gerimis itu menginspirasi.
Setidaknya di sini.
Di sebuah kedai kopi mungil di selatan Jakarta.

Sudah hampir dua jam aku mengetik di sini. Memilih tempat di pojokan, sendirian. Sekarang jari-jariku mulai kram. Aku mengalihkan pandangan ke sekeliling. Mengamati barista di belakang meja bar, pelayan yang lalu lalang, dan beberapa pasang anak muda yang pacaran.
Di hadapanku kursor Ms. Word di layar laptop biru kesayanganku masih berkedip-kedip. Menunggu. Berdampingan dengan secangkir Café Latte  yang tinggal setengahnya, dan sepiring kentang goreng yang belum kusentuh sama sekali. Novel ini harus selesai sebelum akhir bulan atau penerbit akan membatalkan kontraknya denganku.

Di luar langit sore mulai menggelap, seiring jalanan yang mulai padat. Bulir-bulir air hujan mulai membasahi jendela kafe dengan interior minimalis ini. Deru kendaraan bermotor berpadu dengan klakson yang terdengar tidak sabaran. Yah, mau bilang apa… Jakarta, Jumat petang dan hujan. Chaos.

Kuseruput Café latte yang mulai mendingin itu. Kucomot 2 potong kentang goreng dan kukunyah sekaligus. Perutku kelaparan. Barista memutar lagu-lagu Sheila on 7. Eh, sebentar...lagu ini... Selepas intro yang kukenal baik itu, suara Duta mulai mendayu...

Kemana kau s’lama ini
Bidadari yang kunanti
Kenapa baru sekarang 
Kita dipertemukan
...


Gerimis di luar jadi semakin menginspirasi.
Bahkan menginspirasimu melakukan hal-hal yang kurang penting.

Kuraih handphone. Kubuka Instagram. Mengirim komen kepada beberapa teman. Dan ini dia…

Sebuah foto prewedding bernuansa vintage yang instagramable sekali. Dengan latar Museum Fatahillah, sepeda onthel dan tentu saja kostum ala sinyo dan noni Belanda.
Aku sudah “menerima” undangannya beberapa hari lalu di grup WhatsApp teman-teman kuliah. Dan sebagai silent reader abadi, aku tidak berkomentar satu patah kata pun.

Kuperhatikan foto itu lekat-lekat. Dia masih seperti yang dulu. Rahangnya yang tegas. Tersenyum bahagia dengan sebelah tangan memegang stang sepeda dan sebelah lagi memeluk... Ah sudahlah.

Refleks, jempolku mengklik icon hati. Foto itu memang cantik sekali.

Semenit… Dua menit…

Ah, aku tak tahan lagi. Di luar masih gerimis. Cuma satu hal yang aku butuhkan sekarang. Bantal.

Kukemasi laptop biru kesayanganku itu. Penutup bab tulisan yang mesti aku selesaikan malam ini mendadak menguap idenya entah ke mana.

Ting…

Sebuah pesan masuk.  Aku melirik layar handphone. Dari WhatsApp. Nafasku tertahan.

 “Hai…”

Dia. Yang fotonya kutatap lekat-lekat barusan. Namanya masih tertulis lengkap di phonebook. Nama indah yang dulu sering kusebut.

Ragu, kuketik sebaris pesan.

“Hai!”

Tadinya ingin kubalas dengan “Haaaaaaaiiiiiiiii” yang lebih panjang lagi. Tapi naluriku melarang. Jadinya cukup “Hai!” saja. Bahkan di saat seperti ini pun aku masih berusaha sok cool.

“Apa kabar, Dy?”

Hore! Dia yang menanyakan kabar duluan. Otakku langsung berpikir keras. Mencari-cari jawaban yang paling pas.

Terlalu lama. Pesan berikutnya keburu masuk.

“Eh, apa kabar, yah? Eh… Gue manggil lo apa enaknya?”

Ini dia. Dua pesan berturut-turut.
Meski aku-kamu sudah berubah jadi lo-gue. Memang sebenarnya nggak ada bedanya. Tapi tak tahu apa penggalan yang tepat untuk nama “Dyah”, itu soal lain lagi. Dua tahun tanpa kontak apapun meski masih berteman di beberapa medsos, dan kini dia kebingungan harus memanggilku apa.

Secepat kilat jari-jariku mengetik pesan balasan.

 “Memang dulu manggilnya apa?”

Semenit... Dua menit...

Tak ada balasan. Hanya “typing..” dan “Online” yang bergantian. 
Sampai akhirnya..

“Dulu sih manggilnya sayang.”

Gerimis di luar tiba-tiba menjadi hujan deras.
Suara Duta berputar-putar di kepalaku.
Mungkin salahku
Melewatkanmu
Tak mencarimu
Sepenuh hati
Maafkan aku

...

Kalau gerimis bisa menginspirasimu melakukan hal kurang penting, mungkin hujan kali ini akan mengajakmu melakukan hal yang tidak-tidak.


***


Kamis, 25 Agustus 2016

Entah

Entah harus mempertanyakannya atau diam.
Manakah yang lebih menyakitkan, mereka yang memiliki kenangan lalu kehilangan, atau mereka yang kehilangan tanpa pernah memiliki kenangan?

Entah apa jawabannya.
Kehilangan itu bisa datang tiba-tiba. Kapan saja. 

Tak pernah ada cara yang mudah untuk mengucapkan selamat berpisah.
Sepertinya kita memang terlalu sibuk merangkai kenangan, sampai lupa bagaimana caranya mengatasi kehilangan

Kamis, 14 Juli 2016

Memulai Kembali

~ Monita Tahalea

Matahari sudah di penghujung petang
 
Kulepas hari dan sebuah kisah 
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku 
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
 
Sebuah janji terbentang di langit biru 
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang 
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
 
Aku mencari
Aku berjalan 
Aku menunggu
Aku melangkah pergi 
Kaupun tak lagi kembali
 
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi 
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang 
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu 

Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang 
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu 
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
 
Aku mencari
Aku berjalan 
Aku menunggu 
Aku melangkah pergi 
Kaupun tak lagi 
Dan ku kan memulai kembali

Jumat, 10 Juni 2016

See You When I See You

~ Jason Aldean

Let's don't say goodbye
I hate the way it sounds
So if you don't mind
Let's just say for now

See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah see you when I see you
And I hope it's some day soon

God made this old world round
And maybe it's that way
So that paths we go down
Yeah will cross again someday
And someday I'll...

See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah see you when I see you
And I hope it's someday real soon
I hope it's someday soon

See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine - just stop by
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah I'll see you when i see you
Till then my prayers are with you
And I hope it's some day soon

I'll see you when I see you


Rabu, 30 Maret 2016

Hanya Isyarat

~ Dewi Lestari

Entah hijau, entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwana hijau, jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis. Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat ini yang masih buka.Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandingan sepak bola dini hari dari televisi 14 inci dan kumandang lagu disko era satu dekade silam serta kerlap-kerlip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.

Tinggal empat manusia yang tersisa, dan satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan makhluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan. Sementara aku tetap menyandang status “kenalan“, mereka sudah menjadi tiga serangkai – sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku merasa tidak rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuan bertahan.

Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak lagi tahan. Cuma aku yang tidak terganggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.

Satu diantara mereka sampai berteriak senang begitu sakelar lampu dipadamkan. Yang tersisa tinggallah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantis. Aku tidak suka.

Tanpa sengaja dia menoleh ke arahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Aku pun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi didekatkan ke meja mereka, dan dia mempersilakan aku duduk. Dia, yang paling kucari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.

Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk disitu, akan kuselundupkan setengah bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikirannya, memata-matai perasaannya. Cukup seperempat saja jiwaku berjaga di meja itu, untuk tersenyum sopan, tertawa kecil, dan merespon ‘oh’ atau ‘oooh’ atas percakapan apa pun.

“Kami sedang melakukan satu permainan“, dia menjelaskan. “Bertukar cerita paling sedih,” temannya menambahkan, “yang terpilih jadi juara akan mendapatkan . . . ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh digeser ke pusat meja.

Cepat kujelaskan bahwa aku tidak minum bir sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapa pun untuk melakuan apa pun dan tidak boleh ditolak. Ide itu disambut baik. Bahkan ide bir sebagai hadiah utama dilengserkan.

Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman, dan kisah bencana alam. Tiba gilirannya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau, lalu cahaya besar. Namun di saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring koma tentu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahaya entah apa, yang cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern, menjadi manusia yang mengatasi cinta insani dan berjuang untuk mrnghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu, tanpa perlu tunggu koma atau ko’it.
Ketiga temannya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.

“Giliran kamu”, suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh ke arahku, matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.
Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, aku teringat trotoar tempat kami berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan, aku teringat siluet punggungnya yang menghadap panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini,aku teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu dengannya, aku teringat ke mana aku harus kembali setelah malam ini, dan ke mana ia pergi nanti.

Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang mampu ibunya beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.

Mereka semua senyap, lalu memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebanyak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.

Aku meghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian yang lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya menyambar botol bir yang tidak lagi jadi piala dan mendadak terlihat sanagat menarik.

Mereka semua berpandang-pandangan, mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alkohol, bir ini menjadi lebih dahsyat dari semua kisah sedih tadi.
Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku. Kisahku dinobatkan jadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang kumau. Siapa dan melakukan apa. Mereka begitu bersemangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkim surat elektronik. Namun bukan itu yang kucari. Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup, Bukan di meja ini, bukan di sebelahnya, bukan bersentuhan dengan kakinya.

Malam itu, sebagai hadiah kisah sedihku tentang cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang, aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar dan menyalahkan lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisi pergi ke tempat dudukku semula, supaya sekembalinya ia nanti, diriku sudah berubah menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara. Tempat ini kembali remang tak romantis. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara, langit, sinar bulan,atau gelembung bir.

Matanya cokelat muda.

Itu sudah lebih dari cukup.