Entah harus mempertanyakannya atau diam.
Manakah yang lebih menyakitkan, mereka yang memiliki kenangan lalu kehilangan, atau mereka yang kehilangan tanpa pernah memiliki kenangan?
Entah apa jawabannya.
Kehilangan itu bisa datang tiba-tiba. Kapan saja.
Tak pernah ada cara yang mudah untuk mengucapkan selamat berpisah.
Sepertinya kita memang terlalu sibuk merangkai kenangan, sampai lupa bagaimana caranya mengatasi kehilangan
Sebuah perjalanan tentang rasa yang pernah disematkan, tentang ada dan tiada, tentang setitik luka, dan sebuah perjuangan tentang kesetiaan. Sebuah cerita tentang ingatan dan melupakan, tentang kisah yang tak pernah dimulai namun harus diakhiri. Tentang senja, rintik hujan, dan kita.
Kamis, 25 Agustus 2016
Kamis, 14 Juli 2016
Memulai Kembali
~ Monita Tahalea
Matahari sudah di penghujung petang
Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi kembali
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi
Dan ku kan memulai kembali
Matahari sudah di penghujung petang
Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi kembali
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi
Dan ku kan memulai kembali
Jumat, 10 Juni 2016
See You When I See You
~ Jason Aldean
Let's don't say goodbye
I hate the way it sounds
So if you don't mind
Let's just say for now
See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah see you when I see you
And I hope it's some day soon
God made this old world round
And maybe it's that way
So that paths we go down
Yeah will cross again someday
And someday I'll...
See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah see you when I see you
And I hope it's someday real soon
I hope it's someday soon
See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine - just stop by
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah I'll see you when i see you
Till then my prayers are with you
And I hope it's some day soon
I'll see you when I see you
Let's don't say goodbye
I hate the way it sounds
So if you don't mind
Let's just say for now
See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah see you when I see you
And I hope it's some day soon
God made this old world round
And maybe it's that way
So that paths we go down
Yeah will cross again someday
And someday I'll...
See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah see you when I see you
And I hope it's someday real soon
I hope it's someday soon
See you when I see you
Another place some other time
If I ever get down your way
Or you're ever up around mine - just stop by
We'll laugh about the old days
And catch up on the new
Yeah I'll see you when i see you
Till then my prayers are with you
And I hope it's some day soon
I'll see you when I see you
Rabu, 30 Maret 2016
Hanya Isyarat
~ Dewi Lestari
Entah hijau, entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwana hijau, jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis. Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat ini yang masih buka.Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandingan sepak bola dini hari dari televisi 14 inci dan kumandang lagu disko era satu dekade silam serta kerlap-kerlip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.
Tinggal empat manusia yang tersisa, dan satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan makhluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan. Sementara aku tetap menyandang status “kenalan“, mereka sudah menjadi tiga serangkai – sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku merasa tidak rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuan bertahan.
Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak lagi tahan. Cuma aku yang tidak terganggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.
Satu diantara mereka sampai berteriak senang begitu sakelar lampu dipadamkan. Yang tersisa tinggallah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantis. Aku tidak suka.
Tanpa sengaja dia menoleh ke arahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Aku pun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi didekatkan ke meja mereka, dan dia mempersilakan aku duduk. Dia, yang paling kucari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.
Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk disitu, akan kuselundupkan setengah bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikirannya, memata-matai perasaannya. Cukup seperempat saja jiwaku berjaga di meja itu, untuk tersenyum sopan, tertawa kecil, dan merespon ‘oh’ atau ‘oooh’ atas percakapan apa pun.
“Kami sedang melakukan satu permainan“, dia menjelaskan. “Bertukar cerita paling sedih,” temannya menambahkan, “yang terpilih jadi juara akan mendapatkan . . . ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh digeser ke pusat meja.
Cepat kujelaskan bahwa aku tidak minum bir sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapa pun untuk melakuan apa pun dan tidak boleh ditolak. Ide itu disambut baik. Bahkan ide bir sebagai hadiah utama dilengserkan.
Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman, dan kisah bencana alam. Tiba gilirannya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau, lalu cahaya besar. Namun di saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring koma tentu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahaya entah apa, yang cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern, menjadi manusia yang mengatasi cinta insani dan berjuang untuk mrnghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu, tanpa perlu tunggu koma atau ko’it.
Ketiga temannya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.
“Giliran kamu”, suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh ke arahku, matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.
Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, aku teringat trotoar tempat kami berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan, aku teringat siluet punggungnya yang menghadap panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini,aku teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu dengannya, aku teringat ke mana aku harus kembali setelah malam ini, dan ke mana ia pergi nanti.
Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang mampu ibunya beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.
Mereka semua senyap, lalu memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebanyak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.
Aku meghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian yang lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya menyambar botol bir yang tidak lagi jadi piala dan mendadak terlihat sanagat menarik.
Mereka semua berpandang-pandangan, mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alkohol, bir ini menjadi lebih dahsyat dari semua kisah sedih tadi.
Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku. Kisahku dinobatkan jadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang kumau. Siapa dan melakukan apa. Mereka begitu bersemangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkim surat elektronik. Namun bukan itu yang kucari. Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup, Bukan di meja ini, bukan di sebelahnya, bukan bersentuhan dengan kakinya.
Malam itu, sebagai hadiah kisah sedihku tentang cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang, aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar dan menyalahkan lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisi pergi ke tempat dudukku semula, supaya sekembalinya ia nanti, diriku sudah berubah menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara. Tempat ini kembali remang tak romantis. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara, langit, sinar bulan,atau gelembung bir.
Matanya cokelat muda.
Itu sudah lebih dari cukup.
Entah hijau, entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwana hijau, jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis. Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat ini yang masih buka.Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandingan sepak bola dini hari dari televisi 14 inci dan kumandang lagu disko era satu dekade silam serta kerlap-kerlip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.
Tinggal empat manusia yang tersisa, dan satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan makhluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan. Sementara aku tetap menyandang status “kenalan“, mereka sudah menjadi tiga serangkai – sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku merasa tidak rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuan bertahan.
Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak lagi tahan. Cuma aku yang tidak terganggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.
Satu diantara mereka sampai berteriak senang begitu sakelar lampu dipadamkan. Yang tersisa tinggallah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantis. Aku tidak suka.
Tanpa sengaja dia menoleh ke arahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Aku pun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi didekatkan ke meja mereka, dan dia mempersilakan aku duduk. Dia, yang paling kucari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.
Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk disitu, akan kuselundupkan setengah bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikirannya, memata-matai perasaannya. Cukup seperempat saja jiwaku berjaga di meja itu, untuk tersenyum sopan, tertawa kecil, dan merespon ‘oh’ atau ‘oooh’ atas percakapan apa pun.
“Kami sedang melakukan satu permainan“, dia menjelaskan. “Bertukar cerita paling sedih,” temannya menambahkan, “yang terpilih jadi juara akan mendapatkan . . . ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh digeser ke pusat meja.
Cepat kujelaskan bahwa aku tidak minum bir sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapa pun untuk melakuan apa pun dan tidak boleh ditolak. Ide itu disambut baik. Bahkan ide bir sebagai hadiah utama dilengserkan.
Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman, dan kisah bencana alam. Tiba gilirannya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau, lalu cahaya besar. Namun di saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring koma tentu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahaya entah apa, yang cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern, menjadi manusia yang mengatasi cinta insani dan berjuang untuk mrnghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu, tanpa perlu tunggu koma atau ko’it.
Ketiga temannya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.
“Giliran kamu”, suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh ke arahku, matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.
Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, aku teringat trotoar tempat kami berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan, aku teringat siluet punggungnya yang menghadap panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini,aku teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu dengannya, aku teringat ke mana aku harus kembali setelah malam ini, dan ke mana ia pergi nanti.
Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang mampu ibunya beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.
Mereka semua senyap, lalu memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebanyak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.
Aku meghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian yang lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya menyambar botol bir yang tidak lagi jadi piala dan mendadak terlihat sanagat menarik.
Mereka semua berpandang-pandangan, mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alkohol, bir ini menjadi lebih dahsyat dari semua kisah sedih tadi.
Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku. Kisahku dinobatkan jadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang kumau. Siapa dan melakukan apa. Mereka begitu bersemangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkim surat elektronik. Namun bukan itu yang kucari. Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup, Bukan di meja ini, bukan di sebelahnya, bukan bersentuhan dengan kakinya.
Malam itu, sebagai hadiah kisah sedihku tentang cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang, aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar dan menyalahkan lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisi pergi ke tempat dudukku semula, supaya sekembalinya ia nanti, diriku sudah berubah menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara. Tempat ini kembali remang tak romantis. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara, langit, sinar bulan,atau gelembung bir.
Matanya cokelat muda.
Itu sudah lebih dari cukup.
Kabut Tak Tergenggam
Kabut yang tak tergenggam.
Angin sekadar lewat habis sudah.
Batu
terlepas jatuh dihadang arus sungai.
Seperti kamu.
Juga seperti
ketidakpastian.
Tanya pun tak jua menemukan jawabnya.
Seperti mimpi,
betulan terjadi tapi nyatanya cuma sebuah ilusi.
Aku bengkak dalam pekatnya jalan bercabang.
Tujuan tak kudapat dengan
benar.
Kamu terlalu ringan bagai udara, jadinya tak mampu kumampatkan
dalam dimensi ruang dan waktu milik kita.
Aku ingin serakah, tapi Tuhan bilang, Jangan!
Aku ingin meminta, tapi nanti jadi serakah!
Berjalan mencari gelap di hamparan terang, lagi lagi tak kudapatkan suatu
apapun selain dimensi tanpa batas.
Aku tergugu dalam kukungan ruang tak
berbatas, ialah sebuah aula ketidakpastian.
Mau ke kanan, takut. Ingin
jalan ke kiri, ragu.
Tali temali seolah menghadang langkahku yang ingin
pasti.
Aku terpojok dalam sudut hati sendiri, mencair lalu mengalir menuju sisi jiwa yang terkoyak.
Penasaran ingin segera bertemu dengan akhir cerita, tapi tak tahu kapan-- atau akankah?
i do
we share the moments
then we bring the memories to our deepest self,
lesson to our life...
i know there's a time that we have to left each others side,
running to our own future,
chasing for our dreams...
although time has heal every wounds,
but sometimes i do miss a lot...
...
...
...
then we bring the memories to our deepest self,
lesson to our life...
i know there's a time that we have to left each others side,
running to our own future,
chasing for our dreams...
although time has heal every wounds,
but sometimes i do miss a lot...
...
...
...
i do...
Kamis, 24 Maret 2016
Rindu
Semalam rindu datang, mengetuk jendela dalam keheningan.
Dia membawa ranting kering yg daunnya mulai menguning.
Ah,, ternyata rindu tak selamanya berwarna jingga.
Ada juga yang kelabu, serupa mendung yang tak menurunkan hujan.
Sayang rindu terlalu buru-buru berlalu,
padahal aku baru hendak mewarnai langit untukmu
dengan warna-warna rinduku yang selalu biru
Dulu aku pernah memiliki satu rindu utuh dalam diriku.
Dulu...
Kini, yang separuhnya kusimpan dalam puisi
separuhnya lagi kusimpan di langit senja
Akan kutitip rinduku padanya sepenggal demi sepenggal
sebelum tenggelam ke kaki ajal
Rindu yang lelah
Rindu yang ada
Rindu yang menanti
Rindu yang terhenti
Rindu yang terpisah jarak
Meski sesungguhnya ia tak pernah pergi dari hati dan benak
Dia membawa ranting kering yg daunnya mulai menguning.
Ah,, ternyata rindu tak selamanya berwarna jingga.
Ada juga yang kelabu, serupa mendung yang tak menurunkan hujan.
Sayang rindu terlalu buru-buru berlalu,
padahal aku baru hendak mewarnai langit untukmu
dengan warna-warna rinduku yang selalu biru
Dulu aku pernah memiliki satu rindu utuh dalam diriku.
Dulu...
Kini, yang separuhnya kusimpan dalam puisi
separuhnya lagi kusimpan di langit senja
Akan kutitip rinduku padanya sepenggal demi sepenggal
sebelum tenggelam ke kaki ajal
Rindu yang lelah
Rindu yang ada
Rindu yang menanti
Rindu yang terhenti
Rindu yang terpisah jarak
Meski sesungguhnya ia tak pernah pergi dari hati dan benak
Kamis, 18 Februari 2016
Hujan dan Memori
~Saut Situmorang
maukah kau kucintai dengan cinta yang pernah kecewa? masih murnikah cinta yang pernah kecewa?
apakah cinta itu cuma cinta pertama? kalau cinta pertama memang tak punya makna, lantas punya maknakah cinta cinta berikutnya?
aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa. maukah kau menerimanya? maukah kau mencintai cinta yang pernah kecewa? aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa,
bukan dengan metafora metafora seperti penyair tua yang sok tahu tentang cinta itu! tapi apakah kau juga akan mencintaiku dengan cinta yang pernah kecewa?
air hujan yang jatuh dari wuwungan rumah selalu mengingatkanku padamu…
entah kenapa, air hujan selalu mengingatkanku padamu.
apakah air hujan juga selalu mengingatkanmu padaku? entah kenapa, air hujan selalu mengingatkanku padamu.
baiklah aku akan melupakanmu seperti kau sudah melupakan namaku waktu kemarin kita bertemu di tangga tangga batu di kota kecil yang jauh itu.
aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat namamu.
aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat wajahmu.
aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat cintamu, dulu.
mana mungkin hujan berhenti turun ke bumi?
mana mungkin aku berhenti mengenangmu?
mana mungkin kau berhenti melupakanku?
Jogjakarta, 18 April 2013
maukah kau kucintai dengan cinta yang pernah kecewa? masih murnikah cinta yang pernah kecewa?
apakah cinta itu cuma cinta pertama? kalau cinta pertama memang tak punya makna, lantas punya maknakah cinta cinta berikutnya?
aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa. maukah kau menerimanya? maukah kau mencintai cinta yang pernah kecewa? aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa,
bukan dengan metafora metafora seperti penyair tua yang sok tahu tentang cinta itu! tapi apakah kau juga akan mencintaiku dengan cinta yang pernah kecewa?
air hujan yang jatuh dari wuwungan rumah selalu mengingatkanku padamu…
entah kenapa, air hujan selalu mengingatkanku padamu.
apakah air hujan juga selalu mengingatkanmu padaku? entah kenapa, air hujan selalu mengingatkanku padamu.
baiklah aku akan melupakanmu seperti kau sudah melupakan namaku waktu kemarin kita bertemu di tangga tangga batu di kota kecil yang jauh itu.
aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat namamu.
aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat wajahmu.
aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat cintamu, dulu.
mana mungkin hujan berhenti turun ke bumi?
mana mungkin aku berhenti mengenangmu?
mana mungkin kau berhenti melupakanku?
Jogjakarta, 18 April 2013
Rabu, 20 Januari 2016
Menutup Senja
Senja di Januari, menyapa malu-malu dari balik rintik hujan dan semburat pelangi.
Dan aku hanya duduk terdiam di sudut ruang. Menatap Senja dari balik kaca jendela yang buram. Enggan.
Entah mengapa...
Aku benci mengatakannya, Aku tak mau melukai hatinya. Aku memalingkan
muka. Senja selalu menghadirkannya. Mengulang-ulang setiap detilnya.
Pertemuan singkat dan jarak yang membentang merangkai cerita. Hingga mengingat dan melupakan menjadi bias diantaranya.
Dan aku hanya terdiam hingga Senja yang kembali ke peraduan. Sejenak
menarik satu napas panjang...
Menutup Senja, rintik hujan, dan kita.
Senin, 11 Januari 2016
Riwayat Luka
Khrisna Pabichara
1
Seperti angan, angin musim penghujan
memang ditakdirkan sebagai pemutar
kenangan.
Ada seseorang dengan rindu memusim,
sedang menggugurkan kenangan, yang
menghujan di dadamu, barangkali.
Aku mencarimu di sela jari-jari hujan,
yang kudapati sepampang kenangan.
2
Karena rindu, katamu, rumah segala kesedihan
dan kesedihan adalah pintu menuju kebahagiaan
yang paling muram.
Aku terus bernyanyi untuk menidurkan kamu dalam mimpiku
dan, di sana, tubuhmu terbuka mengundang pagi datang
membawa cahaya dan embun untuk menguatkan rinduku.
Saat jendela angan terbuka dan matahari tiba lebih pagi,
aku biarkan rinduku menghangat. Berlarian, berlarian,
berlarian: sebagai kenangan. Rindu memang rumah segala
kesedihanbarangkali.
3
Semenjak luka kunamai doa, aku tahu
kehilangan tak lagi butuh air mata.
Bogor, 2011
Seperti angan, angin musim penghujan
memang ditakdirkan sebagai pemutar
kenangan.
Ada seseorang dengan rindu memusim,
sedang menggugurkan kenangan, yang
menghujan di dadamu, barangkali.
Aku mencarimu di sela jari-jari hujan,
yang kudapati sepampang kenangan.
2
Karena rindu, katamu, rumah segala kesedihan
dan kesedihan adalah pintu menuju kebahagiaan
yang paling muram.
Aku terus bernyanyi untuk menidurkan kamu dalam mimpiku
dan, di sana, tubuhmu terbuka mengundang pagi datang
membawa cahaya dan embun untuk menguatkan rinduku.
Saat jendela angan terbuka dan matahari tiba lebih pagi,
aku biarkan rinduku menghangat. Berlarian, berlarian,
berlarian: sebagai kenangan. Rindu memang rumah segala
kesedihanbarangkali.
3
Semenjak luka kunamai doa, aku tahu
kehilangan tak lagi butuh air mata.
Bogor, 2011
Langganan:
Postingan (Atom)


