~ Dewi Lestari
Entah hijau, entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata
berwana hijau, jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain
dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis. Remang
yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat ini yang masih
buka.Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandingan sepak bola dini
hari dari televisi 14 inci dan kumandang lagu disko era satu dekade
silam serta kerlap-kerlip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan
dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.
Tinggal empat manusia yang tersisa, dan satu diantaranya. Karenanya
aku bertahan. Satu-satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan
makhluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka
malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari
mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan. Sementara aku tetap
menyandang status “kenalan“, mereka sudah menjadi tiga serangkai –
sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku merasa tidak
rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah
pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuan bertahan.
Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni
itu dimatikan. Rupanya mereka tidak lagi tahan. Cuma aku yang tidak
terganggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang
menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa
lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh
lampu-lampu itu.
Satu diantara mereka sampai berteriak senang begitu sakelar lampu
dipadamkan. Yang tersisa tinggallah sinar rembulan dan lampu berkekuatan
kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat
itu mendadak romantis. Aku tidak suka.
Tanpa sengaja dia menoleh ke arahku. Mereka tidak bisa lagi
menghindar. Aku pun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi
didekatkan ke meja mereka, dan dia mempersilakan aku duduk. Dia, yang
paling kucari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.
Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami
bersinggungan. Andai ada pintu masuk disitu, akan kuselundupkan setengah
bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca
pikirannya, memata-matai perasaannya. Cukup seperempat saja jiwaku
berjaga di meja itu, untuk tersenyum sopan, tertawa kecil, dan merespon
‘oh’ atau ‘oooh’ atas percakapan apa pun.
“Kami sedang melakukan satu permainan“, dia menjelaskan. “Bertukar
cerita paling sedih,” temannya menambahkan, “yang terpilih jadi juara
akan mendapatkan . . . ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh digeser ke
pusat meja.
Cepat kujelaskan bahwa aku tidak minum bir sehingga tidak perlu ikut
berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak
minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih
siapa pun untuk melakuan apa pun dan tidak boleh ditolak. Ide itu
disambut baik. Bahkan ide bir sebagai hadiah utama dilengserkan.
Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman,
dan kisah bencana alam. Tiba gilirannya. Dia berkisah tentang cahaya.
Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau, lalu
cahaya besar. Namun di saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru
terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring koma tentu
saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta
sejati dalam sebuah cahaya entah apa, yang cuma bisa ditemui saat mati
suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia
memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern, menjadi manusia yang
mengatasi cinta insani dan berjuang untuk mrnghikmati cinta ilahi. Demi
kembali menemukan cahaya itu, tanpa perlu tunggu koma atau ko’it.
Ketiga temannya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.
“Giliran kamu”, suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh ke
arahku, matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah
dihadapi.
Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, aku teringat
trotoar tempat kami berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah
beberapa meter di depan, aku teringat siluet punggungnya yang menghadap
panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini,aku teringat kehidupanku
beberapa hari yang lalu sebelum bertemu dengannya, aku teringat ke mana
aku harus kembali setelah malam ini, dan ke mana ia pergi nanti.
Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang
lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali
ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke
pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang mampu ibunya
beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki
bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap.
Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.
Mereka semua senyap, lalu memandangiku. Mereka tidak menduga
kata-kata sebanyak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka
kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang
punggung ayam di negeri orang.
Aku meghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah.
Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya
mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup
kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang
hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi
isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang
selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai
ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung
ayam tanpa tahu ada bagian yang lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia
sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya
mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya
menyambar botol bir yang tidak lagi jadi piala dan mendadak terlihat
sanagat menarik.
Mereka semua berpandang-pandangan, mencari sang juara. Aku menunduk
dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alkohol, bir ini
menjadi lebih dahsyat dari semua kisah sedih tadi.
Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku.
Kisahku dinobatkan jadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang
kumau. Siapa dan melakukan apa. Mereka begitu bersemangat menunggu titah
dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku
menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di
satu tempat asing dan kelak hanya akan berkim surat elektronik. Namun
bukan itu yang kucari. Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang
sana. Menikmati apa yang kusanggup, Bukan di meja ini, bukan di
sebelahnya, bukan bersentuhan dengan kakinya.
Malam itu, sebagai hadiah kisah sedihku tentang cinta sebatas
punggung dan punggung ayam di negeri orang, aku memilih dia. Aku
menyuruhnya pergi ke bar dan menyalahkan lampu warna-warni tadi.
Kemudian aku permisi pergi ke tempat dudukku semula, supaya sekembalinya
ia nanti, diriku sudah berubah menjadi latar tak jelas yang tak perlu
diajak bicara. Tempat ini kembali remang tak romantis. Ia kembali
menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus
melalui udara, langit, sinar bulan,atau gelembung bir.
Matanya cokelat muda.
Itu sudah lebih dari cukup.
Sebuah perjalanan tentang rasa yang pernah disematkan, tentang ada dan tiada, tentang setitik luka, dan sebuah perjuangan tentang kesetiaan. Sebuah cerita tentang ingatan dan melupakan, tentang kisah yang tak pernah dimulai namun harus diakhiri. Tentang senja, rintik hujan, dan kita.
Rabu, 30 Maret 2016
Kabut Tak Tergenggam
Kabut yang tak tergenggam.
Angin sekadar lewat habis sudah.
Batu
terlepas jatuh dihadang arus sungai.
Seperti kamu.
Juga seperti
ketidakpastian.
Tanya pun tak jua menemukan jawabnya.
Seperti mimpi,
betulan terjadi tapi nyatanya cuma sebuah ilusi.
Aku bengkak dalam pekatnya jalan bercabang.
Tujuan tak kudapat dengan
benar.
Kamu terlalu ringan bagai udara, jadinya tak mampu kumampatkan
dalam dimensi ruang dan waktu milik kita.
Aku ingin serakah, tapi Tuhan bilang, Jangan!
Aku ingin meminta, tapi nanti jadi serakah!
Berjalan mencari gelap di hamparan terang, lagi lagi tak kudapatkan suatu
apapun selain dimensi tanpa batas.
Aku tergugu dalam kukungan ruang tak
berbatas, ialah sebuah aula ketidakpastian.
Mau ke kanan, takut. Ingin
jalan ke kiri, ragu.
Tali temali seolah menghadang langkahku yang ingin
pasti.
Aku terpojok dalam sudut hati sendiri, mencair lalu mengalir menuju sisi jiwa yang terkoyak.
Penasaran ingin segera bertemu dengan akhir cerita, tapi tak tahu kapan-- atau akankah?
i do
we share the moments
then we bring the memories to our deepest self,
lesson to our life...
i know there's a time that we have to left each others side,
running to our own future,
chasing for our dreams...
although time has heal every wounds,
but sometimes i do miss a lot...
...
...
...
then we bring the memories to our deepest self,
lesson to our life...
i know there's a time that we have to left each others side,
running to our own future,
chasing for our dreams...
although time has heal every wounds,
but sometimes i do miss a lot...
...
...
...
i do...
Kamis, 24 Maret 2016
Rindu
Semalam rindu datang, mengetuk jendela dalam keheningan.
Dia membawa ranting kering yg daunnya mulai menguning.
Ah,, ternyata rindu tak selamanya berwarna jingga.
Ada juga yang kelabu, serupa mendung yang tak menurunkan hujan.
Sayang rindu terlalu buru-buru berlalu,
padahal aku baru hendak mewarnai langit untukmu
dengan warna-warna rinduku yang selalu biru
Dulu aku pernah memiliki satu rindu utuh dalam diriku.
Dulu...
Kini, yang separuhnya kusimpan dalam puisi
separuhnya lagi kusimpan di langit senja
Akan kutitip rinduku padanya sepenggal demi sepenggal
sebelum tenggelam ke kaki ajal
Rindu yang lelah
Rindu yang ada
Rindu yang menanti
Rindu yang terhenti
Rindu yang terpisah jarak
Meski sesungguhnya ia tak pernah pergi dari hati dan benak
Dia membawa ranting kering yg daunnya mulai menguning.
Ah,, ternyata rindu tak selamanya berwarna jingga.
Ada juga yang kelabu, serupa mendung yang tak menurunkan hujan.
Sayang rindu terlalu buru-buru berlalu,
padahal aku baru hendak mewarnai langit untukmu
dengan warna-warna rinduku yang selalu biru
Dulu aku pernah memiliki satu rindu utuh dalam diriku.
Dulu...
Kini, yang separuhnya kusimpan dalam puisi
separuhnya lagi kusimpan di langit senja
Akan kutitip rinduku padanya sepenggal demi sepenggal
sebelum tenggelam ke kaki ajal
Rindu yang lelah
Rindu yang ada
Rindu yang menanti
Rindu yang terhenti
Rindu yang terpisah jarak
Meski sesungguhnya ia tak pernah pergi dari hati dan benak
Langganan:
Postingan (Atom)
