Senin, 16 Januari 2017

Ketika Hujan Turun



Percayalah. Gerimis itu menginspirasi.
Setidaknya di sini.
Di sebuah kedai kopi mungil di selatan Jakarta.

Sudah hampir dua jam aku mengetik di sini. Memilih tempat di pojokan, sendirian. Sekarang jari-jariku mulai kram. Aku mengalihkan pandangan ke sekeliling. Mengamati barista di belakang meja bar, pelayan yang lalu lalang, dan beberapa pasang anak muda yang pacaran.
Di hadapanku kursor Ms. Word di layar laptop biru kesayanganku masih berkedip-kedip. Menunggu. Berdampingan dengan secangkir Café Latte  yang tinggal setengahnya, dan sepiring kentang goreng yang belum kusentuh sama sekali. Novel ini harus selesai sebelum akhir bulan atau penerbit akan membatalkan kontraknya denganku.

Di luar langit sore mulai menggelap, seiring jalanan yang mulai padat. Bulir-bulir air hujan mulai membasahi jendela kafe dengan interior minimalis ini. Deru kendaraan bermotor berpadu dengan klakson yang terdengar tidak sabaran. Yah, mau bilang apa… Jakarta, Jumat petang dan hujan. Chaos.

Kuseruput Café latte yang mulai mendingin itu. Kucomot 2 potong kentang goreng dan kukunyah sekaligus. Perutku kelaparan. Barista memutar lagu-lagu Sheila on 7. Eh, sebentar...lagu ini... Selepas intro yang kukenal baik itu, suara Duta mulai mendayu...

Kemana kau s’lama ini
Bidadari yang kunanti
Kenapa baru sekarang 
Kita dipertemukan
...


Gerimis di luar jadi semakin menginspirasi.
Bahkan menginspirasimu melakukan hal-hal yang kurang penting.

Kuraih handphone. Kubuka Instagram. Mengirim komen kepada beberapa teman. Dan ini dia…

Sebuah foto prewedding bernuansa vintage yang instagramable sekali. Dengan latar Museum Fatahillah, sepeda onthel dan tentu saja kostum ala sinyo dan noni Belanda.
Aku sudah “menerima” undangannya beberapa hari lalu di grup WhatsApp teman-teman kuliah. Dan sebagai silent reader abadi, aku tidak berkomentar satu patah kata pun.

Kuperhatikan foto itu lekat-lekat. Dia masih seperti yang dulu. Rahangnya yang tegas. Tersenyum bahagia dengan sebelah tangan memegang stang sepeda dan sebelah lagi memeluk... Ah sudahlah.

Refleks, jempolku mengklik icon hati. Foto itu memang cantik sekali.

Semenit… Dua menit…

Ah, aku tak tahan lagi. Di luar masih gerimis. Cuma satu hal yang aku butuhkan sekarang. Bantal.

Kukemasi laptop biru kesayanganku itu. Penutup bab tulisan yang mesti aku selesaikan malam ini mendadak menguap idenya entah ke mana.

Ting…

Sebuah pesan masuk.  Aku melirik layar handphone. Dari WhatsApp. Nafasku tertahan.

 “Hai…”

Dia. Yang fotonya kutatap lekat-lekat barusan. Namanya masih tertulis lengkap di phonebook. Nama indah yang dulu sering kusebut.

Ragu, kuketik sebaris pesan.

“Hai!”

Tadinya ingin kubalas dengan “Haaaaaaaiiiiiiiii” yang lebih panjang lagi. Tapi naluriku melarang. Jadinya cukup “Hai!” saja. Bahkan di saat seperti ini pun aku masih berusaha sok cool.

“Apa kabar, Dy?”

Hore! Dia yang menanyakan kabar duluan. Otakku langsung berpikir keras. Mencari-cari jawaban yang paling pas.

Terlalu lama. Pesan berikutnya keburu masuk.

“Eh, apa kabar, yah? Eh… Gue manggil lo apa enaknya?”

Ini dia. Dua pesan berturut-turut.
Meski aku-kamu sudah berubah jadi lo-gue. Memang sebenarnya nggak ada bedanya. Tapi tak tahu apa penggalan yang tepat untuk nama “Dyah”, itu soal lain lagi. Dua tahun tanpa kontak apapun meski masih berteman di beberapa medsos, dan kini dia kebingungan harus memanggilku apa.

Secepat kilat jari-jariku mengetik pesan balasan.

 “Memang dulu manggilnya apa?”

Semenit... Dua menit...

Tak ada balasan. Hanya “typing..” dan “Online” yang bergantian. 
Sampai akhirnya..

“Dulu sih manggilnya sayang.”

Gerimis di luar tiba-tiba menjadi hujan deras.
Suara Duta berputar-putar di kepalaku.
Mungkin salahku
Melewatkanmu
Tak mencarimu
Sepenuh hati
Maafkan aku

...

Kalau gerimis bisa menginspirasimu melakukan hal kurang penting, mungkin hujan kali ini akan mengajakmu melakukan hal yang tidak-tidak.


***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar