Izinkan
saya menulis tentang dinihari.
Ketika
malam sudah tak bisa disebut malam tapi pagi belum datang.
Tentang
orang-orang yang tak tidur, tak bisa tidur, mereka yang terpekur atau bengong
atau bekerja apa saja, berdoa apa saja, mereka yang mencoba mengingat atau
melupakan.
Dalam
gelap dinihari, tak ada yang bisa ditebak.
Ia
semacam peringatan akan apa yang kurang pada kita, yang menyebabkan kita
selamanya terbelah, antara dulu yang sempat hadir dan kini yang rapuh.
Dinihari
adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir.
Tapi
di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi.
Justru,
mengutip Paulo Coelho, ”saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang
terang.”
Sekarang
izinkan saya menulis tentang gelap.
Gelap
adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya.
Namun
bukankah ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya ?
Gelap
adalah kesementaraan.
Ketika
kita tahu hidup begitu sejenak, kita pun akan bertanya adakah segalanya juga
fana, karena yang abadi tak pernah kita alami.
Justru
karena dinihari juga akan berhenti. Ia juga bagian dari keterbatasan dan
kesementaraan.
Gelap
tak bisa mutlak.
Tapi
mungkin juga karena kita temui gelap tak sendirian: ia sebuah beda, ia sebuah
intermezzo di dunia yang diberondong cahaya.
Sedikit
berlebihan, tentu saja, seperti setiap sajak.
Sebab
selalu ada jarak antara alam semesta.
Antara
gelap dan terang.
Antara
masa lalu dan kini.
Itulah
sebabnya dinihari begitu penting: perbatasan; transisi; pertemuan dua hal,
momen perbedaan, momen ketidakstabilan, tapi juga keterbukaan.
Dan
kesempatan.
Yang
mungkin tak pernah kita miliki.
Mungkin
itulah kita bisa saling menyapa.
Kita
yang lain, kita yang beda, kita yang tak pernah bersama.
Sejenak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar