Rabu, 12 November 2014

Dinihari



Izinkan saya menulis tentang dinihari.

Ketika malam sudah tak bisa disebut malam tapi pagi belum datang.

Tentang orang-orang yang tak tidur, tak bisa tidur, mereka yang terpekur atau bengong atau bekerja apa saja, berdoa apa saja, mereka yang mencoba mengingat atau melupakan.

Dalam gelap dinihari, tak ada yang bisa ditebak.

Ia semacam peringatan akan apa yang kurang pada kita, yang menyebabkan kita selamanya terbelah, antara dulu yang sempat hadir dan kini yang rapuh.

Dinihari adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir.

Tapi di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi.

Justru, mengutip Paulo Coelho, ”saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang terang.”


Sekarang izinkan saya menulis tentang gelap.

Gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya.

Namun bukankah ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya ?

Gelap adalah kesementaraan.

Ketika kita tahu hidup begitu sejenak, kita pun akan bertanya adakah segalanya juga fana, karena yang abadi tak pernah kita alami.

Justru karena dinihari juga akan berhenti. Ia juga bagian dari keterbatasan dan kesementaraan.

Gelap tak bisa mutlak.

Tapi mungkin juga karena kita temui gelap tak sendirian: ia sebuah beda, ia sebuah intermezzo di dunia yang diberondong cahaya.


Sedikit berlebihan, tentu saja, seperti setiap sajak.

Sebab selalu ada jarak antara alam semesta.

Antara gelap dan terang.

Antara masa lalu dan kini.


Itulah sebabnya dinihari begitu penting: perbatasan; transisi; pertemuan dua hal, momen perbedaan, momen ketidakstabilan, tapi juga keterbukaan.

Dan kesempatan.

Yang mungkin tak pernah kita miliki.

Mungkin itulah kita bisa saling menyapa.

Kita yang lain, kita yang beda, kita yang tak pernah bersama.

Sejenak.

Seperti dinihari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar