Rabu, 30 Maret 2016

Kabut Tak Tergenggam

Kabut yang tak tergenggam. 
Angin sekadar lewat habis sudah. 
Batu terlepas jatuh dihadang arus sungai. 
Seperti kamu. 
Juga seperti ketidakpastian. 
Tanya pun tak jua menemukan jawabnya.
Seperti mimpi, betulan terjadi tapi nyatanya cuma sebuah ilusi.
Aku bengkak dalam pekatnya jalan bercabang. 
Tujuan tak kudapat dengan benar. 
Kamu terlalu ringan bagai udara, jadinya tak mampu kumampatkan dalam dimensi ruang dan waktu milik kita.
Aku ingin serakah, tapi Tuhan bilang, Jangan! 
Aku ingin meminta, tapi nanti jadi serakah!
Berjalan mencari gelap di hamparan terang, lagi lagi tak kudapatkan suatu apapun selain dimensi tanpa batas.
Aku tergugu dalam kukungan ruang tak berbatas, ialah sebuah aula ketidakpastian. 
Mau ke kanan, takut. Ingin jalan ke kiri, ragu. 
Tali temali seolah menghadang langkahku yang ingin pasti. 
Aku terpojok dalam sudut hati sendiri, mencair lalu mengalir menuju sisi jiwa yang terkoyak.
Penasaran ingin segera bertemu dengan akhir cerita, tapi tak tahu kapan-- atau akankah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar