Apalagi
yang lebih baik daripada secangkir teh hangat di pagi yang dingin?
Kopi
mungkin?
Ah
ya benar. Tapi maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pencinta kopi,
aku tak begitu suka kopi. Seperti kata Dee "Sesempurna apa
pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang
tak mungkin disembunyikan." ‒Filosofi
Kopi.
Jadi, mungkin karena aku tak suka kepahitan, aku lebih memilih teh.
Teh tidak pahit, hanya sepat. Sepat yang ringan.
Aku tak tahu jenis-jenis teh. Teh hijau, teh hitam, teh oolong (apa
pula itu?). Aku hanya paham 2 macam teh. Teh tubruk dan teh celup. Yang
terakhir ini lebih sering kubuat.
Bagiku teh tubruk adalah teh yang bersahaja. Sederhana dan tegas.
Meski dari produsen yang sama, tapi beda orang yang menyeduhnya, pasti beda
rasanya. Teh yang berkarakter kalau boleh kubilang.
Sementara teh celup dengan variasi yang telah distandarkankan
produsen, membuat setiap orang bisa menikmati rasa, warna dan aroma yang
mendekati sama. Tapi bukan berarti tidak istimewa.
Aku juga tak mengerti tata cara minum teh yang benar. Yang bisa
kulakukan hanyalah menyeduh tea bag dengan
200 ml air panas, menambahkan gula secukupnya lalu mengaduknya. Dan seduhan teh
berwarna kuning kemerahan yang indah itu akan berputar mengikuti alunan sendok.
Segera
tapi tak tergesa, teh itu bisa kunikmati. Kuhirup dalam-dalam aroma teh dari
cangkir yang mengepul. Lalu dengan memejamkan mata, aku seruput teh itu
perlahan. Rasa hangat yang nyaman pun akan membuatku tersenyum.
Tersenyum
sambil menatapi rintik hujan di jendela.
Entahlah,
hujan selalu menghadirkan kesenduan.
Dan…
Menyesap
secangkir teh di kala hujan seperti memanggil rasa yang hilang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar