mungkin bukan waktu yang menyenja ingatan kita,
bukan pula kenangan yang telah menggunting setia.
namun luka yang menyeringai dengan cakar-cakarnya,
pada batu nisan di hatiku aku menulis namamu,
dengan kayu dan abu yang mengelu.
kubiarkan reranting menimbun jejakmu, pun
dedaun yang terhempas di tanah pilu.
lalu kereta terakhir pun berlalu, membawa onggok luka dan cabikan rindu.
: kereta terakhir yang tak pernah kembali.
kita.
lalu kereta terakhir pun berlalu, membawa onggok luka dan cabikan rindu.
: kereta terakhir yang tak pernah kembali.
kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar